Girimulyo— Suasana berbeda tampak di SMA Negeri 1 Girimulyo pada peringatan Mangayu Bagya Adeging Ngayogyakarta Hadiningrat ke‑271. Sejak pagi, ratusan siswa, guru, dan tenaga kependidikan telah bersiap mengikuti kirab budaya, sebuah tradisi yang digelar sekolah sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan budaya Yogyakarta. Mengusung tema “Mulat Sarira Jumangkah Jatraning Laku”, kegiatan ini bukan sekadar prosesi budaya, tetapi juga ajang pendidikan karakter yang menekankan pentingnya refleksi diri sebelum melangkah menuju masa depan.

Dalam kirab yang dimulai dari halaman sekolah itu, para siswa mengenakan busana adat Jawa lengkap mulai dari surjan, jarik, beskap, hingga kebaya. Barisan berjalan rapi mengikuti iringan musik gamelan. Prosesi kirab bergerak menyusuri lingkungan sekitar sekolah melewati Kapanewon Girimulyo, ke kelurahan Giripurwo kemudian Kembali lagi ke sekolah dan menarik perhatian warga yang turut memberi sambutan hangat. Kehadiran masyarakat memperkuat makna kirab sebagai jembatan antara sekolah dan komunitas lokal.
Pelaksana harian Kepala SMA Negeri 1 Girimulyo , Heri Marwanto, SE dalam sambutannya menyatakan bahwa tema “Mulat Sarira Jumangkah Jatraning Laku” merupakan pengingat bagi generasi muda untuk terus introspeksi, mengenal jati diri, dan menata langkah agar selalu sejalan dengan nilai budaya luhur. Menurutnya, peringatan adeging bukan hanya mengenang berdirinya Kasultanan Yogyakarta, tetapi juga meneguhkan kembali karakter kejawaan yang menjunjung tata krama, keselarasan, dan kebijaksanaan.
Usai kirab, kegiatan dilanjutkan dengan kenduri ruwahan atau nyadran, tradisi Jawa yang umumnya dilakukan menjelang bulan Ramadhan sebagai bentuk doa bersama dan ungkapan syukur. Seluruh warga sekolah berkumpul di hall sekolah untuk mengikuti doa yang dipimpin tokoh masyarakat setempat. Di hadapan bapak ibu guru, tersaji nasi gurih dan ingkung ayam, dua hidangan khas yang sarat makna simbolik. Ingkung melambangkan kepasrahan dan permohonan keselamatan, sedangkan nasi gurih menjadi simbol harapan akan kehidupan yang penuh keberkahan. Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa ketika semua warga sekolah duduk bersila, menikmati hidangan dalam tradisi makan bersama.
Rangkaian kegiatan ini tidak hanya memperkuat identitas budaya sekolah, tetapi juga menumbuhkan rasa solidaritas serta kepedulian sosial antarwarga sekolah. Melalui peringatan ini, SMA Negeri 1 Girimulyo menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pelestarian budaya.
Dengan perpaduan kirab budaya, kenduri ruwahan, dan makan bersama nasi gurih serta ingkung, sekolah berharap siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang berbudaya, berkarakter kuat, dan siap melangkah ke masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur Yogyakarta.

Beri Komentar